Jumat, 07 Agustus 2009

    Foxfire: Metode Mengajar yang Mengasikkan, Menyenangkan, dan Menghasilkan

    Foxfire: Metode Mengajar yang Mengasikkan, Menyenangkan, dan Menghasilkan




    Foxfire: Metode Mengajar Yang Mengasikkan, Menyenangkan, dan Menghasilkan
    *****
    Filosofi konstruktivisme perlu diketahui guru. Metode pembelajaran inquiry, discovery, dan juga contextual learning, perlu diperkenalkan dan dilatihkan kepada para guru kita. Leadership kepada sekolah juga perlu memberi dukungan terhadap perubahan di sekolah
    (Prof. Suyanto, Ph.D, Universitas Negeri Yogyakarta: Kompas, 6 Oktober, 2003
    *****
    Ada satu metode mengajar yang cukup unik, yang sebenarnya sangat mungkin dapat dicoba untuk diterapkan dalam proses belajar mengajar di dalam kelas. Karakteristik ”siswa aktif” amat menonjol dalam metode ini. Demikian juga dengan karakteristik ”menyenangkan”. Pendek kata metode ini dapat diterapkan di dalam proses belajar mengajar yang menggunakan pendekatan PAKEM. Metode ini dikenal dengan nama foxfire.
    Pengertian
    Metode foxfire sebenarnya merupakan metode penugasan atau pemberian tugas kepada peserta didik untuk melakukan kajian kemasyarakatan ke suatu daerah, kemudian hasil kajian itu disusun dalam bentuk tulisan singkat, dan akhirnya diterbitkan sebagai bentuk laporan. Tentu saja, materi penugasan tersebut adalah yang terkait dengan materi pelajaran yang diajarkan.
    Tujuan
    Tujuan yang akan dicapai dengan menggunakan metode ini adalah untuk (1) meningkatkan kesadaran siswa tentang pentingnya menjaga warisan sosial dan budaya masyarakat, (2) meningkatkan keterampilan siswa dalam proses pengumpulan data, dan (3) meningkatkan keterampilan menulis.
    Latar Belakang
    Pada tahun 1960-an, seorang guru Bahasa Inggris di Clayton County, Georgia (Amerika Serikat) berusaha mengajarkan mengarang yang lebih relevan kepada para siswanya dengan cara melibatkan mereka dalam kegiatan studi tentang daerah pegunungan di daerah itu, yakni terntang masyarakat dan adat-istiadatnya. Karangan karya para siswa itu kemudian diterbitkan oleh sebuah majalah. Para siswa menamakan cara ini dengan istilah foxfire, setelah para siswa berhasil menulis karangan tentang keindahah bunga pegunungan di daerah itu. Para siswa menyambut cara ini dengan penuh semangat. Mereka secara aktif mengumpulkan data dan membuat karangan tentang apa yang mereka temukan di daerah itu. Penerbitan hasil karya mereka telah memberikan dorongan kepada mereka untuk bekerja dengan keras, bekerja sama untuk mencapai hasil yang bermanfaat. Sejak itulah banyak penerbit yang membukukan hasil karya siswa, dan sejak saat itu foxfire banyak ditiru oleh berbagai proyek, tidak saja di Amerika Serikat, tetapi juga di seluruh dunia. Foxfire telah mengubah data yang telah terkumpul menjadi karya yang dapat disumbangkan dalam bentuk informasi yang berharga tentang daerah itu, dan telah mendorong siswa untuk bekerja keras, baik dalam pengumpulan data maupun dalam penulisan karangan yang akan diterbitkan.
    Persyaratan, Kebaikan, dan Kelemahan
    Ada dua persyaratan utama untuk dapat menerapkan metode foxfire ini. Pertama, guru harus bersedia untuk bekerja sama dengan siswa sebagai mentor yang membimbing dan memberikan petunjuk kepada siswa. Kedua, hasil kegiatan pengumpulan data harus diadministrasikan dengan baik untuk memudahkan pekerjaaan guru dan siswa.
    Metode mengajar ini memiliki kelebihan yang luar biasa. Pertama, para siswa akan memiliki keterampilan dalam proses pengumpulan data lapangan. Kedua, para siswa akan memiliki keterampilan dalam menulis. Ketiga, terjadi kerja sama sinergis antara sekolah dengan penerbit. Keempat, memberikan bekal keterampilan kepada siswa untuk dapat memperoleh penghasilan melalui menulis. Kelima, jika hasil karya siswa tersebut dapat diterbitkan dan laku dijual, maka kegiatan siswa ini akan dapat menghasilkan pendapatan yang luar biasa (generate income).
    Meskipun demikian, metode mengajar ini memang memiliki beberapa kelemahan sebagai berikut. Pertama, memerlukan waktu yang cukup lama, sehingga menyulitkan bagi Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum untuk membuat jadwal yang dapat mengakomodasi pelaksanaan metode ini. Kedua, memerlukan guru yang benar-benar memiliki kemampuan untuk membimbing siswa untuk dapat menulis.
    Langkah-langkah Kegiatan Penerapan Metode Mengajar
    Langkah-langkah proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan PAKEM dapat dilakukan sebagai berikut:
    Langkah pertama: Persiapan. Sudah barang tentu, pendidik telah menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) sebagai persiapan formal untuk menerapkan metode mengajar ini. Guru juga telah mempersiapan semua perangkat media, alat, dan prasyarat lain yang diperlukan untuk melaksanakan metode ini, misalnya (1) surat perizinan (jika diperlukan), (2) contoh instrumen wawancara yang akan digunakan oleh siswa, (3) contoh tulisan tentang kisah seorang pekerja keras yang berhasil di suatu desa, contoh ”Petani Pepaya” (Kompas, 19 April 2007), ”Pedagang Bunga”, dan sebagainya. Metode mengajar ini akan dilaksanakan dengan membawa siswa untuk mengikuti oubond ke suatu daerah pedesaan. Anak-anak selama sehari atau dua hari untuk mengumpulkan data dan informasi tentang mata pencaharian penduduk, dan kemudian menuliskan tentang apa-apa yang dapat diperoleh dari kegiatan tersebut. Langkah persiapan ini dilakukan oleh guru jauh sebelum proses pembelajaran dimulai.
    Langkah kedua: Membuka pelajaran (appersepsi atau set induction). Jangan lupa memberikan salam kepada semua siswa. Beritahukan kepada siswa bahwa untuk pelajaran kali ini, para siswa akan diajak untuk melaksanakan proses belajar mengajar dengan metode yang belum pernah dilakukan, yakni yang disebut sebagai foxfire. Berikan kepada siswa tentang metode foxfire ini secara jelas. Metode mengajar ini sudah cukup efektif dapat dilaksanakan untuk siswa kelas tinggi di Sekolah Dasar, misalnya kelas V dan VI. Topik mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) yang akan diajarkan misalnya adalah ”Mata Pencaharian”. Ada beberapa informasi yang harus disampaikan kepada siswa.
    1. Guru menjelaskan bahwa para siswa dalam waktu sehari dua hasil akan diajak untuk mengumpulkan data tentang mata pencaharian penduduk desa. Para siswa diberikan keterampilan untuk mengumpulkan data dengan cara melakukan wawancara dengan masyarakat desa. Bahkan kalau perlu melakukan observasi partisipatif, misalnya ikut memerah susu sapi, ikut menanam padi, atau ikut membuat barang-barang keterampilan, dan sebagainya. Metode ini dalam beberapa hal sama dengan metode widyawisata atau sinau wisata, atau sekarang banyak dikenal dengan outbound di daerah alam pegunungan, di daerah pedesaan. Kalau perlu untuk melaksanakan kegiatan ini dibentuk panitia kecil, atau pembagian tugas untuk pekerjaan-pekerjaan yang dapat dilakukan oleh siswa dengan didampingi oleh dewan pendidik.
    2. Untuk dapat menulis tentang data yang berhasil dikumpulkan, para siswa diberikan keterampilan dasar tentang menulis. Misalnya membuat kalimat aktif secara singkat dalam bentuk S/P/O atau subyek-predikat-obyek. Anak-anak dibiasakan dapat menulis kalimat aktif, singkat dan tidak bertele-tele. Guru menjelaskan metode 5H dan 1W atau enam aspek yang penting dalam membuat karangan, yakni apa, dimana, siapa, when, mengapa, dan bagaimana. Apa yang terjadi, dimana kejadian itu, siapa yang terlibat dalam kejadian itu, kapan terjadinya, mengapa hal itu terjadi, dan bagaimana proses kejadian itu.
    3. Hal yang sangat penting untuk dijelaskan kepada siswa adalah tentang rencana penerbitan semua tulisan yang dihasilkan dari kegiatan ini. Kalau ada penerbit yang akan menerbitkan tulisan tersebut, maka sekolah akan menerbitkan dalam bentuk buletin sekolah, atau juga dapat dipajangkan di majalah dinding yang dikelola oleh para siswa.
    Langkah Ketiga: Guru dan siswa berangkat ke daerah yang telah ditetapkan. Dengan bimbingan beberapa guru yang dilibatkan dalam kegiatan ini, siswa mulai melakukan kegiatan pengumpulan data dengan menggunakan instrumen wawancara yang telah diberikan kepada siswa. Ada beberapa siswa yang bertugas mengambil gambar dengan menggunakan handycam dan tustel yang sengaja mereka bawa. Dengan semangat, para siswa mecari dan menemui responden yang telah ditetapkan. Minimal siswa harus dapat mewawancari, misalnya 5 (lima) responden di daerah itu. Jika ada kesempatan, para siswa dapat melakukan kegiatan observasi partisipatif bersama penduduk di daerah itu, misalnya ikut menanam padi, ikut memanen kopi, ikut memerah susu sapi, dan kegiatan lainnya. Kegiatan ini akan lebih dapat memberikan pengalaman belajar yang sangat menyenangkan dan mengesankan bagi siswa. Setelah kegiatan pengumpulan data dan informasi selesai dilaksanakan, maka para guru dan siswa kembali ke sekolah dengan menggunakan transportasi yang telah disiapkan. Selama perjalan pulang pergi para siswa dan guru dapat bernyanyi dengan girangnya. Pesawat televisi di bus biasanya dapat memutar lagu-lagu karaoke yang sangat bermanfaat untuk kegiatan yang menyenangkan ini. Lagu-lagu dan permainan pramuka dapat juga digunakan untuk menggairahkan semangat para siswa.
    Langkah keempat: Pengolahan data dan informasi yang berhasil dikumpulkan kemudian dapat dilakukan di sekolah. Para siswa mengisi tabel yang telah disiapkan, menjumlah data statistik, menghitung prosentase, mengumpulkan foto yang berhasil dicetak, bahkan dapat pula membuat grafik yang diperlukan. Dari hasil pengolahan data dan informasi itulah kemudian dibuatkan tulisan. Para guru perlu memberikan bimbingan kepada siswa bagaimana menulis dengan baik. Berikan kesempatan seluas-luasnya kepada siswa untuk melakukannya sendiri. Jangan sekali-kali membuatkan tulisan untuk siswa. Biarkan siswa membuat konsepnya, lalu berikan kepada teman lainnya untuk membaca dan mengoreksi tulisan tersebut. Tulisan itu dikoreksi juga oleh para guru. Akan lebih baik lagi jika semua itu dapat dikerjakan di ruang laboratorium komputer. Kalau para siswa belum mempunyai kemampuan menulis dengan mesin ketik atau menggunakan program Micorsoft Word di komputer, para siswa dapat menulis di kertas biasa. Itu sudah terlalu cukup.
    Langkah Kelima: Adakan diskusi kelas untuk membahas hasil pekerjaan siswa tersebut. Berikan kesempatan kepada siswa yang diberikan tugas untuk menulis untuk menjelaskan tentang tulisan yang dihasilkan. Kemudian, berikan kepada semua siswa, atau kepada semua kelompok untuk memberikan komentar dan koreksi terhadap tulisan tersebut. Guru dapat memberikan komentar dan koreksi terhadap tulisan tersebut. Jangan sampai lupa memberikan apresiasi kepada para siswa yang telah melaksanakan kegiatan ini.
    Langkah Keenam: Pajanglah semua hasil tulisan siswa tersebut di tempat yang telah ditentukan. Jangan sekali-kali ada tulisan yang tidak dipajang. Berikan kesempatan kepada kelas lain untuk menyaksikan hasil pekerjaan siswa. Ajak kepala sekolah dan guru lainnya untuk memberikan apresiasi terhadap hasil pekerjaan siswa.
    Langkah ketujuh: Undang penerbit untuk kemungkinan dapat menerbitkan semua hasil tulisan siswa. Kalau bisa langsung dapat diterbitkan. Kalau perlu dapat diedit terlebih dahulu oleh tim yang dibentuk untuk itu. Kalau tidak dapat diterbitkan oleh penerbit, maka sekolah dapat menerbitkan dalam bentuk majalah sekolah, atau dapat dijadikan bahan untuk penerbitan majalan dinding di sekolah.
    Jika hasil tulisan siswa memang layak diterbitkan menjadi buku yang laku dijual di pasar, maka tidak mustahil sekolah akan memperoleh keuntungan yang tidak kecil dari kegiatan ini. Demikian juga dengan siswa. Kalau metode ini dapat berjalan dengan lancar, maka uang yang diperoleh dari kegiatan ini dapat digunakan untuk mengadakan peralatan yang diperlukan oleh siswa, misalnya papan soft board, rak display, dan kalau perlu dapat untuk menambah koleksi bukau di perpustakaan sekolah. Alangkah indahnya kalau ini dapat dicapai. Siapa bilang sekolah tidak dapat memperoleh income yang merupakan hasil dari kristalisasi keringat, para guru dan siswanya. Begitulah kata Tukul? Mudah-mudahan.
    Refleksi
    Metode mengajar ini memang masih terasa agak asing bagi kebanyakan guru di negeri ini. Tetapi, jika para pendidik dapat mencoba untuk menerapkannya, maka metode itu akan membuat proses pembelajaran berlansung lebih unik dan menarik. Pada awalnya, mungkin akan terasa sulit, karena semua permulaan itu memang sulit. All beginning is difficult. Alah bisa karena biasa. Itulah kuncinya. Mudah-mudahan.
    *) E-mail: nank_suckit [at] yahoo [dot] com; nanksuckit [at] gmil [dot] com;
    Bahan Bacaan:
    Rice, Marion J. 1987. Modul-modul Ilmu Pengetahuan Sosial Untuk Kurikulum dan Pengajaran. Malang: P3TK, Direktorat Pendidikan Guru dan Tenaga Teknis.

    Senin, 27 Juli 2009

    The Beauty Of Mathematics

    Here is an interesting and lovely way to look at the beauty of mathematics, and of God, the sum of all wonders.

    1 x 8 + 1 = 9
    12 x 8 + 2 = 98
    123 x 8 + 3 = 987
    1234 x 8 + 4 = 9876
    12345 x 8 + 5 = 987 65
    123456 x 8 + 6 = 987654
    1234567 x 8 + 7 = 9876543
    12345678 x 8 + 8 = 98765432
    123456789 x 8 + 9 = 987654321

    Briliant, isn’t it ?

    More briliant ? please download this file.

    Minggu, 26 Juli 2009

    Software Pembelajaran Matematika (Maple Excel Winplot Wingeom Power Point)

    MENCIPTAKAN PEMBELAJARAN KREATIF DAN MENYENANGKAN

    Pembelajaran merupakan suatu proses yang kompleks dan melibatkan berbagai aspek yang saling berkaitan. Dalam pembelajaran , guru berhadapan dengan sejumlah peserta didik dengan berbagai macam latar belakang, sikap, dan potensi, yang kesemuanya itu berpengaruh terhadap kebiasaannya dalam mengikuti pembelajaran. Misalnya masih banyak peserta didik kurang bernafsu untuk belajar dan membolos terutama pada mata pelajaran, dan guru yang menurut mereka sulit atau menyulitkan. Untuk kepentingan tersebut guru dituntut membangkitkan motivasi belajar peserta didik. Karena motivasi merupakan salah satu faktor yang dapat meningkatkan kualitas pembelajaran. Peserta didik yang memiliki motivasi belajar yang tinggi akan belajar dengan sungguh-sungguh.

    Untuk membangkitkan motivasi belajar peserta didik, setiap guru sebaiknya memiliki rasa ingin tahu, mengapa dan bagaimana anak belajar dan menyesuaikan dirinya dengan kondisi-kondisi belajar dalam lingkungannya. Guru juga sebaiknya mampu untuk menciptakan pembelajaran yang kreatif dan menyenangkan.

    Tulisan ini bermaksud untuk memaparkan bagaimana menciptakan suatu pembelajaran yang kreatif dan menyenangkan, sehingga peserta didik termotivasi untuk mengikuti pelajaran di kelas.

    Untuk menciptakan pembelajaran yang kreatif dan menyenangkan diperlukan berbagai keterampilan, diantaranya keterampilan mengajar. Keterampilan mengajar yang sangat berperan dan menentukan kualitas pembelajaran, yaitu keterampilan bertanya, memberi penguatan, mengadakan variasi, menjelaskan, membuka dan menutup pelajaran, membimbing diskusi kelompok kecil, mengelola kelas, serta mengajar kelompok kecil dan perorangan.

    Setiap keterampilan mengajar memiliki komponen dan prinsip-prinsip dasar tersendiri. Keterampilan mengajar tersebut dan cara menggunakannya agar tercipta pembelajaran yang kreatif dan menyenangkan adalah sebagai berikut:

    A. Menggunakan keterampilan bertanya

    Keterampilan bertanya sangat perlu untuk dikuasai oleh guru, karena hampir dalam setiap tahap pembelajaran guru dituntut untuk mengajukan pertanyaan, dan kualitas pertanyaan yang diajukan guru akan menentukan kualitas jawaban peserta didik.

    Keterampilan bertanya yang perlu dikuasai oleh guru meliputi keterampilan bertanya dasar dan keterampilan bertanya lanjutan.

    1. Keterampilan bertanya dasar mencakup;

    a. Pertanyaan yang jelas dan singkat,

    b. Pemberian acuan yaitu sebelum mengajukan pertanyaan guru perlu memberikan acuan berupa penjelasan singkat yang berisi informasi yang sesuai dengan jawaban yang diharapkan,

    c. Memusatkan perhatian; pertanyaan juga dapat digunakan untuk memusatkan perhatian peserta didik,

    d. Memberi giliran dan menyebarkan pertanyaan; guru hendaknya berusaha agar semua peserta didik mendapat giliran dalam menjawab pertanyaan, dan yang lebih penting adalah memberikan kesempatan berpikir kepada peserta didik sebelum menjawab pertanyaan yang diajukan.

    2. Keterampilan bertanya lanjutan meliputi;

    a. Pengubahan tuntunan tingkat kognitif yaitu guru hendaknya mampu mengubah pertanyaan dari hanya sekadar mengingat fakta menuju pertanyaan aspek kognitif lain seperti penerapan, analisis, sintesis dan evaluasi,

    b. Pengaturan urutan pertanyaan yaitu pertanyaan yang diajukan hendaknya mulai dari yang sederhana menuju yang paling kompleks secara berurutan,

    c. Peningkatan terjadinya interaksi yaitu guru hendaknya menjadi dinding pemantul. Jika ada peserta didik yang bertanya, guru tidak menjawab secara langsung, tetapi dilontarkan kembali ke seluruh peserta didik untuk didiskusikan.

    B. Memberi penguatan

    Penguatan merupakan respons terhadap suatu perilaku yang dapat menimbulkan kemungkinan terulangnya kembali perilaku tersebut. Penguatan dapat dilakukan secara verbal berupa kata-kata dan kalimat pujian dan secara non verbal yang dilakukan dengan gerakan mendekati peserta didik dan kegiatan yang menyenangkan. Penguatan bertujuan untuk meningkatkan perhatian peserta didik terhadap pembelajaran, merangsang dan meningkatkan motivasi belajar dan membina perilaku yang produktif.

    C. Mengadakan variasi

    Mengadakan variasi merupakan keterampilan yang harus dikuasai guru dalam pembelajaran untuk mengatasi kebosanan peserta didik, agar selalu antusias, tekun , dan penuh partisipasi. Variasi dalam kegiatan pembelajaran meliputi;

    1. Variasi dalam gaya mengajar misalnya variasi suara, gerakan badan dan mimik, mengubah posisi, dan mengadakan kontak pandang dengan peserta didik.

    2. Variasi dalam penggunaan media dan sumber belajar misalnya variasi alat dan bahan yang dapat dilihat, penggunaan sumber belajar yang ada di lingkungan sekitar.

    3. Variasi dalam pola interaksi misalnya dalam mengelompokkan peserta didik, tempat kegiatan pembelajaran, dan dalam pengorganisasian pesan ( deduktif dan induktif).

    D. Menjelaskan

    Penggunaan penjelasan dalam pembelajaran memiliki beberapa komponen yang harus diperhatikan, yaitu:

    1. Perencanaan meliputi isi pesan yang akan disampaikan harus sistematis dan mudah dipahami oleh peserta didik dan dalam memberikan penjelasan harus mempertimbangkan kemampuan dan pengetahuan dasar yang dimiliki oleh peserta didik.

    2. Penyajian dapat menggunakan pola induktif yaitu memberikan contoh terlebih dahulu kemudian menarik kesimpulan umum dan pola deduktif yaitu hukum atau rumus dikemukakan lebih dahulu lalu diberi contoh untuk memperjelas rumus dan hukum yang telah dikemukakan.

    E. Membuka dan menutup pelajaran

    Membuka dan menutup pelajaran yang dilakukan secara profesional akan memberikan pengaruh positif terhadap kegiatan pembelajaran. Membuka pelajaran merupakan suatu kegiatan yang dilakukan guru untuk menciptakan kesiapan mental dan menarik perhatian peserta didik secara optimal, agar mereka memusatkan diri sepenuhnya pada pelajaran yang akan disajikan. Upaya yang dapat dilakukan untuk mencapai hal tersebut adalah:

    1. Menghubungkan materi yang telah dipelajari dengan materi yang akan disajikan.

    2. Menyampaikan tujuan (kompetensi dasar) yang akan dicapai.

    3. Menyampaikan langkah-langkah kegiatan pembelajaran dan tugas-tugas yang harus diselesaikan untuk mencapai tujuan pembelajaran.

    4. Mendayagunakan media dan sumber belajar yang sesuai dengan materi yang akan disajikan.

    5. Mengajukan pertanyaan, baik untuk mengetahui pemahaman peserta didik terhadap pelajaran yang telah lalu maupun untuk menjajaki kemampuan awal berkaitan dengan bahan yang akan dipelajari.

    Menutup pelajaran merupakan suatu kegiatan yang dilakukan untuk mengetahui pencapai tujuan dan pemahaman peserta didik terhadap materi yang dipelajari serta mengakhiri kegiatan pembelajaran. Untuk menutup pelajaran kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan adalah:

    1. Menarik kesimpulan mengenai materi yang telah dipelajari (kesimpulan bisa dilakukan oleh guru, oleh peserta didik, atau permintaan guru, atau oleh peserta didik bersama guru).

    2. Mengajukan beberapa pertanyaan untuk mengukur tingkat pencapaian tujuan dan keefektifan pembelajaran yang telah dilaksanakan.

    3. Menyampaikan bahan-bahan pendalaman yang harus dipelajari dan tugas-tugas yang harus dikerjakan (baik tugas individu maupun tugas kelompok) sesuai dengan materi yang telah dipelajari.

    4. Memberikan post tes baik secara lisan, tulisan, maupun perbuatan.

    F. Membimbing diskusi kelompok kecil

    Hal-hal yang perlu dipersiapkan guru agar diskusi kelompok kecil dapat digunakan secara efektif dalam pembelajaran adalah:

    1. Pembentukan kelompok secara tepat

    2. Memberikan topik yang sesuai

    3. Pengaturan tempat duduk yang memungkinkan semua peserta didik dapat berpartisipasi secara aktif.

    G. Mengelola kelas

    Pengelolaan kelas merupakan keterampilan guru untuk menciptakan iklim pembelajaran yang kondusif, dan mengendalikannya jika terjadi gangguan dalam pembelajaran. Beberapa prinsip yang harus diperhatikan dalam pengelolaan kelas adalah; kehangatan dan keantusiasan, tantangan, bervariasi, luwes, penekanan pada hal-hal positif, dan penanaman disiplin diri.

    Keterampilan mengelola kelas memiliki komponen sebagai berikut:

    1. Penciptaan dan pemeliharaan iklim pembelajaran yang optimal

    a. Menunjukkan sikap tanggap dengan cara; memandang secara seksama, mendekati, memberikan pernyataan dan memberi reaksi terhadap gangguan di kelas.

    b. Memberi petunjuk yang jelas.

    c. Memberi teguran secara bijaksana.

    d. Memberi penguatan ketika diperlukan.

    2. Keterampilan yang berhubungan dengan pengendalian kondisi belajar yang optimal

    a. Modifikasi perilaku yaitu mengajarkan perilaku yang baru dengan contoh dan pembiasaan, meningkatkan perilaku yang baik dengan penguatan, dan mengurangi perilaku buruk dengan hukuman.

    b. Pengelolaan kelompok dengan cara; peningkatan kerja sama dan keterlibatan, menangani konflik dan memperkecil masalah yang timbul.

    c. Menemukan dan mengatasi perilaku yang menimbulkan masalah, misalnya mengawasi secara ketat, mendorong peserta didik untuk mengungkapkan perasaannya, menjauhkan benda-benda yang dapat mengganggu konsentrasi, dan menghilangkan ketegangan dengan humor.

    H. Mengajar kelompok kecil dan perorangan

    Pengajaran kelompok kecil dan perorangan merupakan suatu bentuk pembelajaran yang memungkinkan guru memberikan perhatian terhadap setiap peserta didik, dan menjalin hubungan yang lebih akrab antara guru dengan peserta didik maupun antara peserta didik dengan peserta didik.

    Keterampilan mengajar kelompok kecil dan perorangan dapat dilakukan dengan:

    1. Mengembangkan keterampilan dalam pengorganisasian, dengan memberikan motivasi dan membuat variasi dalam pemberian tugas.

    2. Membimbing dan memudahkan belajar, yang mencakup penguatan, proses awal, supervisi, dan interaksi pembelajaran.

    3. Pemberain tugas yang jelas, menantang dan menarik.

    Untuk melakukan pembelajaran perorangan perlu diperhatikan kemampuan dan kematangan berpikir peserta didik agar apa yang disampaikan bisa diserap dan diterima oleh peserta didik.

    Selain beberapa komponen keterampilan mengajar yang harus dimiliki oleh seorang guru untuk menciptakan pembelajaran yang kreatif dan menyenangkan, guru juga harus kreatif, profesional, dan menyenangkan dengan memposisikan diri sebagai berikut;

    1. Orang tua yang penuh kasih sayang pada peserta didiknya.

    2. Teman, tempat mengadu, dan mengutarakan perasaan bagi para peserta didik.

    3. Fasilitator yang selalu siap memberikan kemudahan, dan melayani peserta didik sesuai dengan minat, kemampuan, dan bakatnya.

    4. Pemberi sumbangan pemikiran kepada orang tua untuk dapat mengetahui permasalahan yang dihadapi anak dan memberikan saran pemecahannya.

    5. Memupuk rasa percaya diri, berani dan bertanggung jawab kepada peserta didik.

    6. Membiasakan peserta didik untuk saling bersilaturrahmi dengan orang lain.

    7. Mengembangkan kreativitas peserta didik.

    Dengan memiliki beberapa keterampilan mengajar yang telah diuraikan di atas diharapkan guru tidak lagi menjadi figur yang menakutkan bagi peserta didiknya, sehingga peserta didik akan senantiasa memiliki perasaan yang nyaman jika berada dalam proses pembelajaran dan akan senantiasa memiliki motivasi yang tinggi untuk mengikuti pembelajaran.

    MENCIPTAKAN PEMBELAJARAN KREATIF DAN MENYENANGKAN

    Pembelajaran merupakan suatu proses yang kompleks dan melibatkan berbagai aspek yang saling berkaitan. Dalam pembelajaran , guru berhadapan dengan sejumlah peserta didik dengan berbagai macam latar belakang, sikap, dan potensi, yang kesemuanya itu berpengaruh terhadap kebiasaannya dalam mengikuti pembelajaran. Misalnya masih banyak peserta didik kurang bernafsu untuk belajar dan membolos terutama pada mata pelajaran, dan guru yang menurut mereka sulit atau menyulitkan. Untuk kepentingan tersebut guru dituntut membangkitkan motivasi belajar peserta didik. Karena motivasi merupakan salah satu faktor yang dapat meningkatkan kualitas pembelajaran. Peserta didik yang memiliki motivasi belajar yang tinggi akan belajar dengan sungguh-sungguh.

    Untuk membangkitkan motivasi belajar peserta didik, setiap guru sebaiknya memiliki rasa ingin tahu, mengapa dan bagaimana anak belajar dan menyesuaikan dirinya dengan kondisi-kondisi belajar dalam lingkungannya. Guru juga sebaiknya mampu untuk menciptakan pembelajaran yang kreatif dan menyenangkan.

    Tulisan ini bermaksud untuk memaparkan bagaimana menciptakan suatu pembelajaran yang kreatif dan menyenangkan, sehingga peserta didik termotivasi untuk mengikuti pelajaran di kelas.

    Untuk menciptakan pembelajaran yang kreatif dan menyenangkan diperlukan berbagai keterampilan, diantaranya keterampilan mengajar. Keterampilan mengajar yang sangat berperan dan menentukan kualitas pembelajaran, yaitu keterampilan bertanya, memberi penguatan, mengadakan variasi, menjelaskan, membuka dan menutup pelajaran, membimbing diskusi kelompok kecil, mengelola kelas, serta mengajar kelompok kecil dan perorangan.

    Setiap keterampilan mengajar memiliki komponen dan prinsip-prinsip dasar tersendiri. Keterampilan mengajar tersebut dan cara menggunakannya agar tercipta pembelajaran yang kreatif dan menyenangkan adalah sebagai berikut:

    A. Menggunakan keterampilan bertanya

    Keterampilan bertanya sangat perlu untuk dikuasai oleh guru, karena hampir dalam setiap tahap pembelajaran guru dituntut untuk mengajukan pertanyaan, dan kualitas pertanyaan yang diajukan guru akan menentukan kualitas jawaban peserta didik.

    Keterampilan bertanya yang perlu dikuasai oleh guru meliputi keterampilan bertanya dasar dan keterampilan bertanya lanjutan.

    1. Keterampilan bertanya dasar mencakup;

    a. Pertanyaan yang jelas dan singkat,

    b. Pemberian acuan yaitu sebelum mengajukan pertanyaan guru perlu memberikan acuan berupa penjelasan singkat yang berisi informasi yang sesuai dengan jawaban yang diharapkan,

    c. Memusatkan perhatian; pertanyaan juga dapat digunakan untuk memusatkan perhatian peserta didik,

    d. Memberi giliran dan menyebarkan pertanyaan; guru hendaknya berusaha agar semua peserta didik mendapat giliran dalam menjawab pertanyaan, dan yang lebih penting adalah memberikan kesempatan berpikir kepada peserta didik sebelum menjawab pertanyaan yang diajukan.

    2. Keterampilan bertanya lanjutan meliputi;

    a. Pengubahan tuntunan tingkat kognitif yaitu guru hendaknya mampu mengubah pertanyaan dari hanya sekadar mengingat fakta menuju pertanyaan aspek kognitif lain seperti penerapan, analisis, sintesis dan evaluasi,

    b. Pengaturan urutan pertanyaan yaitu pertanyaan yang diajukan hendaknya mulai dari yang sederhana menuju yang paling kompleks secara berurutan,

    c. Peningkatan terjadinya interaksi yaitu guru hendaknya menjadi dinding pemantul. Jika ada peserta didik yang bertanya, guru tidak menjawab secara langsung, tetapi dilontarkan kembali ke seluruh peserta didik untuk didiskusikan.

    B. Memberi penguatan

    Penguatan merupakan respons terhadap suatu perilaku yang dapat menimbulkan kemungkinan terulangnya kembali perilaku tersebut. Penguatan dapat dilakukan secara verbal berupa kata-kata dan kalimat pujian dan secara non verbal yang dilakukan dengan gerakan mendekati peserta didik dan kegiatan yang menyenangkan. Penguatan bertujuan untuk meningkatkan perhatian peserta didik terhadap pembelajaran, merangsang dan meningkatkan motivasi belajar dan membina perilaku yang produktif.

    C. Mengadakan variasi

    Mengadakan variasi merupakan keterampilan yang harus dikuasai guru dalam pembelajaran untuk mengatasi kebosanan peserta didik, agar selalu antusias, tekun , dan penuh partisipasi. Variasi dalam kegiatan pembelajaran meliputi;

    1. Variasi dalam gaya mengajar misalnya variasi suara, gerakan badan dan mimik, mengubah posisi, dan mengadakan kontak pandang dengan peserta didik.

    2. Variasi dalam penggunaan media dan sumber belajar misalnya variasi alat dan bahan yang dapat dilihat, penggunaan sumber belajar yang ada di lingkungan sekitar.

    3. Variasi dalam pola interaksi misalnya dalam mengelompokkan peserta didik, tempat kegiatan pembelajaran, dan dalam pengorganisasian pesan ( deduktif dan induktif).

    D. Menjelaskan

    Penggunaan penjelasan dalam pembelajaran memiliki beberapa komponen yang harus diperhatikan, yaitu:

    1. Perencanaan meliputi isi pesan yang akan disampaikan harus sistematis dan mudah dipahami oleh peserta didik dan dalam memberikan penjelasan harus mempertimbangkan kemampuan dan pengetahuan dasar yang dimiliki oleh peserta didik.

    2. Penyajian dapat menggunakan pola induktif yaitu memberikan contoh terlebih dahulu kemudian menarik kesimpulan umum dan pola deduktif yaitu hukum atau rumus dikemukakan lebih dahulu lalu diberi contoh untuk memperjelas rumus dan hukum yang telah dikemukakan.

    E. Membuka dan menutup pelajaran

    Membuka dan menutup pelajaran yang dilakukan secara profesional akan memberikan pengaruh positif terhadap kegiatan pembelajaran. Membuka pelajaran merupakan suatu kegiatan yang dilakukan guru untuk menciptakan kesiapan mental dan menarik perhatian peserta didik secara optimal, agar mereka memusatkan diri sepenuhnya pada pelajaran yang akan disajikan. Upaya yang dapat dilakukan untuk mencapai hal tersebut adalah:

    1. Menghubungkan materi yang telah dipelajari dengan materi yang akan disajikan.

    2. Menyampaikan tujuan (kompetensi dasar) yang akan dicapai.

    3. Menyampaikan langkah-langkah kegiatan pembelajaran dan tugas-tugas yang harus diselesaikan untuk mencapai tujuan pembelajaran.

    4. Mendayagunakan media dan sumber belajar yang sesuai dengan materi yang akan disajikan.

    5. Mengajukan pertanyaan, baik untuk mengetahui pemahaman peserta didik terhadap pelajaran yang telah lalu maupun untuk menjajaki kemampuan awal berkaitan dengan bahan yang akan dipelajari.

    Menutup pelajaran merupakan suatu kegiatan yang dilakukan untuk mengetahui pencapai tujuan dan pemahaman peserta didik terhadap materi yang dipelajari serta mengakhiri kegiatan pembelajaran. Untuk menutup pelajaran kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan adalah:

    1. Menarik kesimpulan mengenai materi yang telah dipelajari (kesimpulan bisa dilakukan oleh guru, oleh peserta didik, atau permintaan guru, atau oleh peserta didik bersama guru).

    2. Mengajukan beberapa pertanyaan untuk mengukur tingkat pencapaian tujuan dan keefektifan pembelajaran yang telah dilaksanakan.

    3. Menyampaikan bahan-bahan pendalaman yang harus dipelajari dan tugas-tugas yang harus dikerjakan (baik tugas individu maupun tugas kelompok) sesuai dengan materi yang telah dipelajari.

    4. Memberikan post tes baik secara lisan, tulisan, maupun perbuatan.

    F. Membimbing diskusi kelompok kecil

    Hal-hal yang perlu dipersiapkan guru agar diskusi kelompok kecil dapat digunakan secara efektif dalam pembelajaran adalah:

    1. Pembentukan kelompok secara tepat

    2. Memberikan topik yang sesuai

    3. Pengaturan tempat duduk yang memungkinkan semua peserta didik dapat berpartisipasi secara aktif.

    G. Mengelola kelas

    Pengelolaan kelas merupakan keterampilan guru untuk menciptakan iklim pembelajaran yang kondusif, dan mengendalikannya jika terjadi gangguan dalam pembelajaran. Beberapa prinsip yang harus diperhatikan dalam pengelolaan kelas adalah; kehangatan dan keantusiasan, tantangan, bervariasi, luwes, penekanan pada hal-hal positif, dan penanaman disiplin diri.

    Keterampilan mengelola kelas memiliki komponen sebagai berikut:

    1. Penciptaan dan pemeliharaan iklim pembelajaran yang optimal

    a. Menunjukkan sikap tanggap dengan cara; memandang secara seksama, mendekati, memberikan pernyataan dan memberi reaksi terhadap gangguan di kelas.

    b. Memberi petunjuk yang jelas.

    c. Memberi teguran secara bijaksana.

    d. Memberi penguatan ketika diperlukan.

    2. Keterampilan yang berhubungan dengan pengendalian kondisi belajar yang optimal

    a. Modifikasi perilaku yaitu mengajarkan perilaku yang baru dengan contoh dan pembiasaan, meningkatkan perilaku yang baik dengan penguatan, dan mengurangi perilaku buruk dengan hukuman.

    b. Pengelolaan kelompok dengan cara; peningkatan kerja sama dan keterlibatan, menangani konflik dan memperkecil masalah yang timbul.

    c. Menemukan dan mengatasi perilaku yang menimbulkan masalah, misalnya mengawasi secara ketat, mendorong peserta didik untuk mengungkapkan perasaannya, menjauhkan benda-benda yang dapat mengganggu konsentrasi, dan menghilangkan ketegangan dengan humor.

    H. Mengajar kelompok kecil dan perorangan

    Pengajaran kelompok kecil dan perorangan merupakan suatu bentuk pembelajaran yang memungkinkan guru memberikan perhatian terhadap setiap peserta didik, dan menjalin hubungan yang lebih akrab antara guru dengan peserta didik maupun antara peserta didik dengan peserta didik.

    Keterampilan mengajar kelompok kecil dan perorangan dapat dilakukan dengan:

    1. Mengembangkan keterampilan dalam pengorganisasian, dengan memberikan motivasi dan membuat variasi dalam pemberian tugas.

    2. Membimbing dan memudahkan belajar, yang mencakup penguatan, proses awal, supervisi, dan interaksi pembelajaran.

    3. Pemberain tugas yang jelas, menantang dan menarik.

    Untuk melakukan pembelajaran perorangan perlu diperhatikan kemampuan dan kematangan berpikir peserta didik agar apa yang disampaikan bisa diserap dan diterima oleh peserta didik.

    Selain beberapa komponen keterampilan mengajar yang harus dimiliki oleh seorang guru untuk menciptakan pembelajaran yang kreatif dan menyenangkan, guru juga harus kreatif, profesional, dan menyenangkan dengan memposisikan diri sebagai berikut;

    1. Orang tua yang penuh kasih sayang pada peserta didiknya.

    2. Teman, tempat mengadu, dan mengutarakan perasaan bagi para peserta didik.

    3. Fasilitator yang selalu siap memberikan kemudahan, dan melayani peserta didik sesuai dengan minat, kemampuan, dan bakatnya.

    4. Pemberi sumbangan pemikiran kepada orang tua untuk dapat mengetahui permasalahan yang dihadapi anak dan memberikan saran pemecahannya.

    5. Memupuk rasa percaya diri, berani dan bertanggung jawab kepada peserta didik.

    6. Membiasakan peserta didik untuk saling bersilaturrahmi dengan orang lain.

    7. Mengembangkan kreativitas peserta didik.

    Dengan memiliki beberapa keterampilan mengajar yang telah diuraikan di atas diharapkan guru tidak lagi menjadi figur yang menakutkan bagi peserta didiknya, sehingga peserta didik akan senantiasa memiliki perasaan yang nyaman jika berada dalam proses pembelajaran dan akan senantiasa memiliki motivasi yang tinggi untuk mengikuti pembelajaran.

    Hakikat Mengajar Matematika

    Matematika memiliki peranan penting dalam berbagai aspek kehidupan. Banyak permasalahan dan kegiatan dalam hidup kita yang harus diselesaikan dengan menggunakan ilmu matematika seperti menghitung, mengukur, dan lain – lain. Matematika adalah ilmu universal yang mendasari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi modern, memajukan daya piker serta analisa manusia. Peran matematika dewasa ini semakin penting, karena banyaknya informasi yang disampaikan orang dalam bahasa matematika seperti, tabel, grafik, diagram, persamaan dan lain – lain.untuk memahami dan menguasai informasi dan teknologi yang berkembang pesat, maka diperlukan penguasaan matematika yang kuat sejak dini.
    Menurut morris Kline (dalam Simanjutak, 1993) mengatakan bahwa jatuh bangunnya suatu negara dewasa ini tergantung dari kemajuan pada bidang matematika. Oleh karena itu sebagai langkah awal untuk mengarah pada kemajuan suatu bangsa adalah dengan mendorong atau memberi motivasi belajar matematika pada masyarakat khususnya bagi para anak – anak atau siswa. Pengetahuan mengenai matematika memberikan bahasa, proses, dan teori yang memberikan ilmu suatu bentuk dan kekuasaan, yang akhirnya bahwa matematika merupakan salah satu kekuatan utama pembentukan konsepsi tentang alam suatu hakikat dan tujuan manusia dalam kehidupannya.
    Menyadari akan peran penting matematika dalam kehidupan, maka matematika selayaknya merupakan kebutuhan dan menjadi kegiatan yang menyenangkan. Sebagai mana dari tujuan yaitu melatih siswa berpikir dan bernalar dalam menarik kesimpulan, mengembangkan aktifitas kreatif yang melibatkan imajinasi, penemuan, membuat prediksi dan dugaan serta mencoba – coba, mengembangkan kemampuan memecahkan masalah dan mengembangkan kemampuan mengkomunikasikan gagasan atau ide melalui tulisan, pembicaraan lisan, catatan, grafik, peta atau diagram. Oleh karena itu setiap siswa perlu memili penguasaan matematika yang merupakan penguasaan kecakapan matematika untuk dapat memahami dunia dan berhasil dalam kariernya.
    Belajar matematika selama ini masih kurang diminati oleh para siswa, bahkan belajar matematika seakan menakutkan bagi siswa. Hal ini terjadi karena pembelajaran matematika selama ini hanya cenderung hanya berupa kegiatan kegiatan menghitung angka – angka, yang seolah – olah tidak ada makna dan kaitannya dengan peningkatan kemampuan berpikir untuk memecahkan berbagai persoalan.
    Keberhasilan proses mengajar matematika tidak terlepas dari persiapan siswa dan persiapan guru. Siswa yang siap untuk belajar matematika akan meras senang dan dengan penuh perhatian mengikuti pelajaran tersebut. Oleh karena itu guru harus berupaya memelihara dan mengembangkan minat atau kesiapan belajar siswanya. Atau dengan kata lain bahwa guru harus menguasai teori belajar mengajar matematika. Definisi teori belajar mengajar matematika telah terbentang sampai saat ini namun oleh para ahli di bidangny masih belum ada kesamaan konsepsi tentang cara dan metode yang lebih baik untuk mengajar siswa yang sudah siap belajar. Beberapa teori belajar mengajar matematika yang lebih banyak berperan oleh Prof. ET RUSSEFENDI (dalam simanjutak 1993) adalah sebagai berikut :

    1. Teori Latihan Mental
    Menurut teori ini bahwa anak yang belajar harus banyak latihan. Semakin banyak latihan dan kuat serta keras latihannya semakin baik.

    2. Teori thorndike
    Menurut teori ini bahwa dalam belajar itu harus terjadi pengaitan antar pelajaran yang sudah dipelajari dengan yang akan dipelajari.

    3. Teori Dewey
    Menurut teori ini bahwa belajar harus mengutamakan pada pengertian dan belajar bermakna artinya peserta didik akan belajar dengan maksimal jika siswa sudah siap.

    4. Aliran Psikologi “Gestalt”
    Menurut teori ini pengajaran harus ditekankan pada pengertian belajar bermakna dan pengaitan.

    5. Jean Piaget
    Menurut teori ini belajar pada anak bukan sepenuhnya tergantung pada guru melainkan harus keluar dari anak itu sendiri.

    6. J.S Bruner
    Menurut teori ini langkah paling baik dalam belajar matematika adalah dengan melakukan penyusunan presentasinya (model) yang dilakukan oleh peserta didiknya sendiri.

    7. Teori Zaisa Dines
    Menurut teori ini dalam mengajarkan matematika menekankan pengertian, dengan demikian anak diharapkan akan lebih mudah mempelajarinya dan lebih menarik.

    8. Teori Van Hiele

    9. Teori R.M. Gagne
    Menurut teori ini belajar matematika dapat berjalan dengan baik jika peserta didik dihadapkan pada objek tidak langsung dan memecahkan masalah.

    10. Pavlov
    Menurut teori ini peserta didik akan mau belajar jika ada daya tariknya berupa hadiah atau nilai yang baik.

    Dari pengertian di atas menunjukkan bahwa salah satu faktor pendukung berhasil tidaknya pengajaran matematika adalah guru harus menguasai teori belajar mengajar matematika. Dengan menguasai teori belajar mengajar matematika siswa dapat mengikuti pelajaran dengan baik, bahkan dapat memotivasi siswa berminat belajar matematika. Teori belajar mengajar matematika yang dikuasai oleh guru akan dapat diterapkan pada siswa dan guru dapat memilih strategi belajar mengajar yang tepat, menngetahui tujuan pendidikan tujuan pendidikan dan pengajaran dan atau pendekatan yang diharapkan serta dapat melihat apakah siswa sudah siap belajar. Dengan mengetahui kesiapan siswa dalam belajar matematika maka penngajaran yang akan disampaikan dapat diselesaikan dengan kemampuan siswa. Selain guru harus menguasai teori belajar mengajar matematika hal lain yang menentukan berhasil tidaknya mengajar matematika adalah metode atau cara atau pendekatan yang akan dilakukan dalam mengajar. Metode mengajar dikatakan berhasil apabila menghasilkan sesuatu yang sesuai dengan yang diharapkan atau dengan kata lain tujuan pembelajaran. Oleh karena itu metode atau cara atau pendekatan yang diharapkan dapat terlaksana dengan baik jika materi yang akan diajarkan dirancang terlebih dahulu. Dengan kata lain untuk menerapkan suatu metode atau cara atau pendekatan dalam mengajar matematika guru harus menyusun strategi belajar mengajar. Strategi belajar mengajar yang tersusun dapat ditentukan metode mengajar atau teknik mengajar dan akhirnya dapat dipilih alat peraga atau media pembelajaran sebagai pendukung materi pelajaran yang akan diajarkan.
    Pendekatan dan strategi pembelajaran matematika hendaknya mengikuti kaidah pedagogik secara umum yaitu pembelajaran diawali dari konkret ke abstrak, dari sederhana ke kompleks, dan dari mudah ke sulit, dengan menggunakan berbagai sumber belajar. Belajar matematika akan efektif dan efisien manakala siswa diajak berpikir secara aktif dan kreatif melalui berbagai kegiatan yang mengarah pada penyelidikan dan penemuan konsep matematika. Proses pembelajaran yang menitik beratkan pada kegiatan siswa dalam bentuk penyelidikan dan penemuan, penalaran dan komunikasi serta pemecahan masalah membuat siswa tidak hanya belajar secara deduktif, tetapi juga berpikir secara induktif, dan hal ini sangat penting dalam pembelajaran matematika.
    Melalui proses pembelajaran matematika yang demikian diharapkan siswa dapat memiliki kompetensi dasar yang sesuai dengan tuntutan zaman. Hasil belajar yang lebih baik tentunya harapan bagi kita semua sebagai guru yang bertindak sebagai fasilitator belajar siswa. Semoga artikel ini memberikan manfaat, khusunya bagi peningkatan mutu mata pelajaran matematika.
    Amiin.

    PARADIGMA PEMBELAJARAN MATEMATIKA

    Frederick K.S. Leung (University of Hongkong), mengungkap rahasia penting kunci sukses pembelajaran matematika di Hongkong. “Faktor apa yang mungkin berdampak terhadap pencapaian prestasi belajar matematika siswa?” Pertanyaan mendasar inilah yang dijadikan pijakan analisis kajian terhadap data Trends in International Mathematics & Science Study (TIMSS) 1999 Video Study di 7 negara, meliputi Australia, Rep. Ceko, Hongkong, Jepang, Belanda, Swiss, & Amerika Serikat.

    Dibandingkan dengan negara lain yang menjadi subjek kajian penelitian, Hongkong memiliki keunggulan tersendiri dalam mendesain kegiatan pembelajaran matematikanya di kelas. Kegiatan presentasi kelas, membangun konsep matematika melibatkan seluruh aktivitas siswa, merupakan ciri utama pembelajaran matematika sekolah di Hongkong. Desain pembelajaran ini sangat relevan dengan kerangka pemikiran “matematika sebagai komunikasi”.

    Pada hakikatnya, belajar dan mengajar matematika membutuhkan berbagai aktivitas bahasa, seperti membaca, mendengar, menulis, merepresentasi, dan berdiskusi. Fungsi bahasa dalam konteks kelas matematika adalah bahwa bahasa telah terbukti sepanjang masa untuk mengembangkan gagasan-gagasan. Bahasa disajikan sebagai suatu makna representasi & makna komunikasi. Pendidik matematika menyebutnya “mathematics an exstension of language” (Weinzweig, 1982).

    Jacobs (1982) menyatakan bahwa apabila pembelajaran matematika terfokus pada menghafalkan istilah-istilah daripada mengkomunikasikan ide-ide matematika, maka siswa banyak mengalami kesulitan sehingga perlu diperkenalkan lebih dini secara tepat. Karena bagi siswa, matematika pada dasarnya merupakan “bahasa asing”. Namun demikian, matematika dapat digunakan untuk berkomunikasi dimana saja kita berada, bahasa pengantar apa saja yang kita gunakan dalam pembelajaran, sehingga tepat kalau matematika disebut “the universal language” .

    Siswa lebih suka membangun pengetahuan matematika melalui berbagai aktivitas, siswa mengalami dan memaknai sendiri apa yang terjadi dalam pembelajaran di kelas, itulah potret pembelajaran matematika di Hongkong.

    Sisi lain yang cukup unik, siswa di Hongkong sangat menyukai aktivitas belajar secara berkelompok, guru menyajikan masalah matematika yang merangsang minat siswa untuk bertanya, kemudian siswa mendiskusikan solusinya.

    Situasi pembelajaran ini sangat relevan dengan konsep belajar matematika sebagai aktivitas sosial. Schoenfeld (1992), menyatakan bahwa belajar matematika merupakan sifat suatu aktivitas sosial. Naasnya, pembelajaran komunikasi konvensional dengan satu arah, mengabaikan sifat sosial dari belajar matematika, juga mengganggu perkembangan matematika siswa. Rancanglah strategi pembelajaran secara berkelompok, sehingga siswa mampu berkomunikasi dengan sesama temannya untuk membangun pengetahuan dari aktivitas belajar berkelompok. Manfaat besar dari aktivitas belajar secara berkelompok akan membantu siswa mengembangkan pengetahuan matematika, mengembangkan kemampuan pemecahan masalah & penalaran, meningkatkan kepercayaan diri siswa (Johnson & Johnson, 1989), serta memberdayakan keterampilan sosial & keterampilan komunikasi (Noddings, 1985).

    3 Prinsip Pembelajaran Matematika Versi Robyn Anderson

    Mau pembelajaran matematika Anda lebih bermakna? Tampaknya, 3 prinsip seorang Executive di Queensland Association of Mathematics Teachers ini bisa jadi salah satu rujukan desain pembelajaran Anda di kelas.

    Pertama, connecting students to mathematics. Apa ya maksudnya? Kita membutuhkan proses untuk menghubungkan siswa dalam konteks nyata keseharian mereka. Kita juga harus membangun pemahaman matematika siswa dengan sesuatu yang berada di sekeliling mereka. Mengapa tidak jika kita coba memulai pembelajaran dengan pertanyaan-pertanyaan yang memancing minat siswa seperti, “Coba sebutkan benda-benda di sekitar yang berbentuk segiempat, lingkaran, segitiga, atau bentuk geometri lainnya?”. Atau kita memulai pembelajaran materi statistika dengan mengajak siswa menghitung jumlah sepeda motor, sepeda, mobil yang di parkir di halaman sekolah. Pasti sangat menarik untuk dicoba.

    Kedua, believing that all students can learn mathematics. Pernah mendengar filosofi sukses “You are what you think”? Bagaimana Anda bisa sukses mengajari siswa Anda belajar matematika, jika Anda sendiri sebagai guru meragukan kemampuan matematika siswa Anda. Menyajikan matematika dengan mempertimbangkan kesiapan & kematangan belajar siswa, serta menghubungkannya dengan kehidupan mereka, itu adalah langkah penting memotivasi sikap positif siswa terhadap matematika, selanjutnya mereka akan percaya bahwa mereka mampu belajar matematika.

    Ketiga, focusing on students’ mathematical learning. Bagaimana caranya supaya pembelajaran matematika dapat berfokus pada siswa? Strategi pembelajaran harus mampu menciptakan lingkungan belajar di kelas yang berpusat pada siswa, mengembangkan pembelajaran berbasis konstruktivis (siswa membangun pengetahuan sendiri), siswa bekerja dalam kelompok, dan guru harus memfasilitasi diskusi matematika di antara siswa.

    Metafora dalam Pembelajaran Matematika

    Banyak faktor sukses dapat menentukan keberhasilan belajar matematika siswa, cara penyajian materi salah satunya. Apakah cara penyajian materi dapat membuat siswa tertarik, kemudian termotivasi untuk belajar matematika. Ataukah siswa akan merasa jenuh dan menghindari matematika?

    Dalam paper Robyn Anderson, saya menemukan “harta karun” yang seolah mengingatkan saya akan kenangan mengajar di 4 SMP—SMPN 1 Kerinci Kanan. SMPN 2 Kerinci Kanan, SMP Swadaya, & SMP Islam Al Muhajirin--di Kab. Siak Propinsi Pekanbaru satu tahun silam. “Harta Karun” tersebut berbunyi, “Clark (2007) found that stories and literature are particularly rich stimulus to promote mathematical discussion, and when students were asked to provide written reflection about a range of mathematical concepts that were made more accessible and memorable as a result of reading stories”.

    Apa yang bisa saya refleksikan dari “harta karun” dan pengalaman mengajar saya setahun silam? AHA...METAFORA...Inspirasi ini yang pernah saya bawa dalam pengalaman mengajar saya.

    Metafora yang dimaksud dalam kajian saya ini adalah memaparkan cerita tentang hakikat kesuksesan, perumpamaan-perumpamaan mengenai suatu bentuk kehidupan yang notabene akan mereka hadapi kelak, simulasi, ataupun kisah-kisah berbagai orang sukses dalam hidupnya, serta legenda-legenda lainnya. Diharapkan nantinya, setelah pembelajaran selesai, setiap siswa sebagai pembelajar memiliki wawasan lebih tentang kehidupan nyata yang akan mereka songsong, sehingga motivasi mereka untuk lebih sungguh-sungguh belajar dapat ditingkatkan.

    Tujuan utama penggunaan metafora dalam pembelajaran matematika adalah untuk mendongkrat minat dan motivasi siswa dalam belajar, bukan hanya belajar matematika, tetapi belajar nilai-nilai kehidupan. Saya membiasakan diri mengawali pembelajaran dengan cerita kehidupan & motivasi yang saya pelajari dari berbagai literatur, menghubungkan matematika dengan nilai-nilai kehidupan, dan melakukan simulasi matematika yang menantang kemampuan berpikir siswa.

    Sebenarnya sangat banyak metafora yang dapat digunakan atau disampaikan dalam setiap pembelajaran. Misalnya: (1) bercerita dengan menggunakan perumpamaan untuk menumbuhkan kesadaran betapa pentingnya pembelajaran tersebut, (2) bercerita dengan perumpamaan, bahwa yang bertanggung jawab terhadap pendidikan pada hakikatnya adalah diri sendiri, (3) memberikan penjelasan bagaimana kiat meraih sukses dalam pembelajaran dan kehidupan, (4) menyajikan paparan bahwa orang belajar harus siap keluar dari ‘zona nyaman’, (5) mendiskusikan mengapa hingga saat ini kualitas pendidikan Indonesia masih terpuruk, (6) mengisahkan tentang beberapa tokoh terkenal seperti Albert Einstein, J.K. Rowling, Syaikh Ahmad Yassin, Jacky Chan, David Beckham, Michael Jordan, Thomas Alva Edison, Jalaluddin Rumy, Umar Khayyam, Iwan Fals, dan sebagainya, (7) memberikan beberapa nasihat dan tips-tips untuk meraih keberhasilan, (8) melakukan simulasi matematika yang menantang kemampuan berpikir siswa (puzzle).

    Metafora menggugah motivasi siswa untuk belajar matematika, memberdayakan potensi mereka untuk menjawab tantangan dalam simulasi matematika, dan yang paling penting menjelajahi nilai-nilai kehidupan yang mengisnpirasi mereka untuk melakukan upaya terbaik dalam hidupnya.

    Puzzle session, inilah drama paling menarik yang banyak dinanti para siswa ketika belajar matematika di kelas dengan skenario “metafora”. Saya suguhkan satu contoh puzzle untuk Anda para pembaca Majalah Teachers Guide.

    Pecahkan kodenya agar penjumlahan berikut benar!

    = 6

    = 2

    Berapa nilai dari , , , dan ?

    Uraikan cara kerja Anda dalam menjawab pertanyaan tersebut!

    Menakutkan, kesan itu masih melekat cukup kuat di benak sebagian besar siswa kita terhadap pelajaran & pembelajaran matematika. Ingin coba membantah fakta ini? Lakukan pembelajaran matematika dengan paradigma baru yang lebih bermakna & menyenangkan.

     

    About

    Site Info

    Text

    Matematika Copyright © 2009 Community is Designed by Bie