Minggu, 26 Juli 2009

Bagaimana Mengajar Matematika Menyenangkan di Jepang??

Di TV NHK (Nippon Housou Kyoukai) ada acara yang
bernama `waku-waku jugyou, watashi no oshiekata` yang
kira-kira artinya `kelas yang menyenangkan`, metode
mengajar saya`

Acara ini menyajikan metode mengajar yang unik para
guru di Jepang. yang sering ditampilkan adalah
pembelajaran matematika dan sains.
Pembelajaran
matematika, terutama di SD dan SMP di Jepang sangat
menarik, guru-guru selalu menyiapkan bahan belajar
yang sangat sederhana, misalnya kertas, gunting,
jepitan pakaian, atau bahan lain yg gampang sekali
ditemukan.

Misalnya seorang guru di SD affiliation Tsukuba
University mengajar anak kelas 5 SD bilangan berderet
dengan bahan kertas dan gunting. Dengan prinsip `
melipat dan menggunting` anak-anak belajar bilangan
berderet secara menyenangkan.

Caranya : Kertas berukuran A4 dilipat memanjang
sebanyak dua kali, kemudian digunting mengikuti
lipatannya sehingga menjadi 4 potongan kertas
memanjang. Selanjutnya kertas pertama dilipat melebar
1 kali lalu digunting. Jadi, dengan melipat 1 kali
dan menggunting 1 kali, akan dihasilkan 2 potongan
kertas baru. Bagaimana kalau dilipat 2 kali, kemudian
gunting di lipatan yang terakhir ? Berapa potongan
kertas baru yang akan dihasilkan ? Yup, hasilnya 3
potongan kertas baru. Jadi sudah terbentuk deret
bilangan 0, 2, 3. Selanjutnya kalau dilipat 3 kali
lalu digunting, berapa potongan kertas yang akan
dihasilkan ? Sebelum mempraktekkannya, Pak Guru
terlebih dahulu menanyai para siswa. Sebagian besar
siswa menjawab 5, sebagian yang lain menjawab 6.
Mengapa menjawab 5, mengapa menjawab 6, semuanya
diminta untuk menjelaskan alasannya. Papan tulis pun
penuh dengan coretan dan ilustrasi anak-anak.

Yang menarik guru sama sekali tidak menggurui dengan
memberitahukan jawabannya secara langsung, tetapi
seakan-akan beliau tidak tahu, dan meminta siswa untuk
menjelaskan. Melalui cara ini, saya dapat menangkap
bahwa anak-anak Jepang sangat kaya ide. Pepatah
`banyak jalan menuju Roma` berlaku di sini. Dan Pak
Guru sama sekali tidak pernah mengatakan `salah`, yang
dia ucapkan malah kalimat `naruhodo`, yang artinya
`Oh, saya baru tahu ! Kalimat ini menurut saya
membangkitkan suatu kebanggaan tersendiri bagi seorang
anak. Suatu pujian yang bisa diartikan `kamu bisa,
Nak !`

Ada 3 prinsip mengajar guru-guru di Jepang, yaitu

1. tanoshii jugyou (kelas harus menyenangkan)

2. wakaru ko (anak harus mengerti)

3. dekiru ko (anak harus bisa)

Melalui model pembelajaran seperti itu, kita dapat
melihat bagaimana anak-anak di Jepang diajari untuk
menganalisa sebuah permasalahan, atau menemukan
pemecahannya, tanpa dijejali dengan rumus itu rumus
ini. Mereka baru diajari rumus /teori belakangan,
setelah mereka paham asal-usul sebuah teori, dan bisa
menggunakannya di kehidupan sehari-hari. Mereka juga
tidak diajari banyak hal, sedikit saja yang penting
mengerti. Oleh karenanya guru-guru di SD sangat kaget
ketika mengetahui anak-anak SD kelas 1 di Indonesia
sudah belajar bilangan sampai 100. Pasti mereka akan
kaget lagi kalau dikatakan bahwa di Ineonesia sudah
belajar perkalian hingga 10 x 10 waktu di TK.
Maksudnya, menghafalnya, tanpa mengerti kenapa 1 x 1 =
1.

0 komentar:

Poskan Komentar

 

About

Site Info

Text

Matematika Copyright © 2009 Community is Designed by Bie